Rabu, 12 Oktober 2016

sejarah kindang bulukumba sul sel

Desa Kindang merupakan salah satu desa dari (9) Sembilan Desa dab Kelurahan yang ada di Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba. Desa Kindang terdiri atas tujuh (7) Dusun yakni Dusun Cibollo, Bungaya, Mt. Deceng, Sapaya, Gamaccaya, Kahaya, tabbuakang.
Desa Kindang adalah desa pertanian yang sebagian masyarakatnya terdiri dari petani.
Desa Kindang merupakan desa paling utara dan tertua di wilayah Kecamatan Kindang. Sekaligus menjadi nama kecamatan. Desa ini berada di lereng gunung Lompobattang. Berikut gambaran tentang sejarah perkembangan desa ini. 
Penamaan Kindang berasal dari bahasa Belanda yaitu Kindom yaitu Kerajaan. Salah satu somboyang dalam peperangan adalah Buri Cilampa’na kindang yang melambangkan Ayam Jantang Putih bercampur bilu hitam satu lembar sebagai bendera kemenangan.
Pemerintahan Kerajaan Kindang merupakan anak Kerajaan Gowa yang terbentuk sejak abad ke 17 M dimana pada masa Perjanjian Bungaya salah seorang saudara tertua sombayya RI Gowa (Karaengta Manangngi) kecewa dan tidak mau menerima hasil perjanjian tersebut sehingga memilih untuk pergi mencari Daerah Kekuasaan dan ditemukanla Kindang sekaligus sebagai Raja pertama yang memerintahkan. Adapun gelar Raja-raja Kindang sejak dulu adalah Karaeng Kindang, bukti sejarah bahwa seluruh Raja-raja dimakamkan diatas Bukti Saukang yang sekarang terletak di Dusun Bungaya Desa Kindang dan sebuah Rumah Tua (Balla Sengnga) yang merupakan Istana Raja Kindang VII (Kurru Dg. Sahi) yang masih utuh sampai sekarang.
· Wilayah kekuasaan Kerajaaan Kindang sampai pada masa Pemerintahan Raja ke III (Karaeng Alomoa) adalah : Sebelah Utara berbatasan dengan Sungai Anyorang (sekarang masuk Desa sapo Bonto Kec. Bulukumpa), sebelah timur berbatasan dengan batu-batu Desa Bonto Lohe Kec. Rilau ale, sebelah Selatan berbatasan dengan Sungai Maesa sekarang Desa Pattaneteang Kec. Tompo Bulu Kab. Bantaeng dan Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Tinggi Moncong Kab. Gowa.
· Pada Masa Pemerintahan Raja ke IV (Parappa Dg. Warewa) terjadi antara Karaeng tanete dan Karaeng kindang yang terkenal dengan perang beba (Karaeng Tanete dan Karaeng Kindang adalah sepupu Satu Kali) tapi karena kesalah pahaman masalah sawah dilemponge sekarang hulo Desa Sapo Bonto dan akibat peperangan tersebut Pasukang karaeng Kindang di pukul mundur sampai campaga membuat benteng Pertahanan (Benteng Campaga) sekarang menjadi Desa Tamaona setelah menelan ribuan korban (Kuburan yang ada di galung Lohe Desa Tamaona), maka perang mulai surut sehingga Pasukan berhamburan ke Passimbungan Desa Anrihua sekarang (Passimbungan = Berhamburan) Karaeng Kindang bersembunyi di Cobbu (Cobbu = Sembunyi) dan akhirnya menuju sebelah barat diatas Gunung Senggang (Senggang = Sangga = Batas) dan tinggal di Na’na (Na’na = mendengar Berita) setelah beberapa waktu kemudian beliau menyebrang ke batu massoong (sekarang Desa Pattaneteang Kab. Bantaeng) mencetak sawah baru di Bungen namun setelah selesai mencetak Sawah beliau tidak memiliki Benih untuk di tanam akhirnya Karaeng Kindang meminta benih sehingga Karaeng Bantaeng berkata “Jangankan benih untuk dimakanpun saya siapkan” akhirnya Karaeng kindang membawa 7 ekor Kuda ke Bantaeng mengangkut gabah, setelah panen maka datanglah Karaeng Bantaeng mengukur sawah tersebut sehingga Pajak bumu masuk di Kab. Bantaeng dan sekarang sudah masuk Wilayah Kab. Bantaeng.
· Pada masa pemerintahan Raja ke IV (Parappa Dg. Warewa) terjadi perang antara Karaeng Tanete dan Karaeng Kindang yang terkenal dengan Perang Beba. Karaeng Tanete dan Karaeng Kindang sebenarnya adalah sepupu satu kali namun, terjadi perang diantara mereka karena kesalah pahaman masalah sawah di Lemponge atau yang sekarang disebut Hulo Desa Sapo Bonto. Akibat peperangan tersebut pasukang Karaeng Kindang dipukul mundur sampai ke Campaga dan membuat Benteng Pertahanan (Benteng Campaga) yang sekarang menjadi Desa Tamaona. Setelah menelan ribuan korban (Kuburan yang ada di Galung Lohe Desa Tamaona) perang mulai surut, sehingga pasukan berhamburan ke Passimbungan yang sekarang adalah Desa Anrihua (Passimbungan = berhamburan). Karaeng Kindang yang bersembunyi di Cobbu (Cobbu = sembunyi) akhirnya menuju sebelah barat di atas Gunung Senggang (Senggang = Sangga = Batas) dan tinggal di Na’na (Na’na = Mendengar Berita). Setelah beberapa waktu kemudian beliau menyeberang ke Batu Masoong (sekarang Desa Pattaneteang Kab. Bantaeng) dan mencetak sawah baru di Bungen. Namun, setelah selesai mencetak sawah beliau tidak memiliki benih untuk ditanam. Oleh sebab itu, Karaeng Kindang meminta benih kepada Karaeng Bantaeng. Karaeng Bantaeng pun berkata “jangankan benih, untuk dimakanpun saya siapkan”. Akhirnya, Karaeng Kindang membawa 7 ekor kuda ke Bantaeng mengangkut gabah. Setelah selesai panen maka datanglah Karaeng Bantaeng mengukur sawah tersebut sehingga pajak bumi masuk di kabupaten Bantaeng. Dan sekarang sudah masuk wilayah kabupaten Bantaeng.
· Adapun daftar nama-nama Karaeng Kindang sebagai berikut :
1. Raja Pertama adalah I Masanrangan Dg. Manai (Karaeng Mannangngi Bangsawan dari Gowa sejaman dengan Karanta Data)
2. Raja II Karaeng Canggoreng
3. Raja III karaeng Alomoa
4. Raja IV Parappa Dg. Marewa bergelar Karaeng Cammoa
5. Raja V Paduai Daeng paewa bergelar Karaeng Lompoa
6. Raja VI Sudari Dg. Marowa
7. Raja VII Kurru Dg. Sahi (1938-1954)
· Karaeng Salengke (1948-1954)
· Karaeng Sudari (Kepala Distrik Kindang) 1954
· Karaeng Maddolangan (1954-1959)

Pada masa pemerintahan Karaeng Maddolangan tepatnya pada Juli 1959 dengan lahirnya UU No. 29 tahun 1959 tentang penggabungan daerah-daerah tingkat dua maka distrik meletakkan jabatan sebagai PNS dan tidak mau bergabung dengan Gantarang
Pada masa penggabungan tersebut bekas distrik Kindang terbagi menjadia dua Desa. Yakni, Desa Kindang dan Desa Borongrappoa dibawah kendali perwakilan Kindang Amuktassin AS, BA (Karaeng Reje=Karaeng Loloa) berikut sejarah perkembangan Desa Kindang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar